|
HARGA: RP 25.000,- Isi: 80 kapsul No. Sertifikat Halal MUI: 1636072001 (kapsul) Izin Depkes RI: P.IRT No. 313331105058
KHASIAT: Obat
sakit perut, demam, sakit kuning, sakit gula, pengatur haid sakit
perut, sakit pinggang, obat mencret dan obat cacing, Luka, koreng,
kudis, Gatal-gatal, menambah nafsu makan, Malaria, Hepatitis, Diabetes
dan Rematik
DESKRIPSI Tumbuhan ini berasal dari Asia Tenggara, misalnya di Indo Cina, Semenanjung MeIayu, Filipina dan Indonesia (Jawa, BaIi, Ambon).
Uraian tanaman :
Brotowali
termasuk tumbuhan merambat yang memiliki batang berwarna hijau dengan
penuh benjolan, dan mengandung banyak air. Daunnya yang berwarna hijau
muda berbentuk jantung memiliki lebar antara 6 hingga 12 cm. Bunganya
berwarna hijau muda memiliki mahkota 6 yang merupakan tunas.Warnanya
kemudian berubah menjadi merah dan putih. Buahnya berwarna merah muda.
Tanaman obat yang memiliki nama lokal antawali, bratawali, putrawali,
daun gadel (Jawa); Andawali (Sunda), Antawali (Bali); Shen jin teng
(China). Termasuk golongan tumbuhan perdu, tinggi batang sampai 2,5 m.
Ukuran batang sebesar jari kelingking, berbintil-bintil rapat rasanya
pahit. Bentuk daun seperti jantung atau agak budar telur berujung
lancip, panjang 7 - 12 cm, lebar 5 - 10 cm. Bunganya kecil dan berwarna
hijau muda.
Tanaman ini diketahui mengandung antimikrobial,
dan antiparasit. Penyakit yang dapat diobati adalah reumatik, demam,
dan Kencing manis. Air rebusan brotowali juga dapat digunakan untuk
menyembuhkan penyakit kulit seperti koreng dan kudis. Kulit-batangnya
mengandung zat-zat seperti alkaloida dan damar lunak berwarna kuning
sedang akarnya mengandung zat berberin dan kolumbin. Kandungan alkaloid
berberina berguna untuk membunuh bakteri pada luka. Brotowali juga
bermanfaat untuk menambah nafsu makan dan menurunkan kadar gula. Zat
pahit pikroretin dapat merangsang kerja urat saraf sehingga alat
pernapasan bekerja dengan baik dan menggiatkan pertukaran zat sehingga
dapat menurunkan panas.
Kegunaan : Umumnya diminum sebagai
tonikum seperti kinine. Di Indo Cina semua bagian tumbuh-tumbuhan
dipakai sebagai obat demam sebagai pengganti kinine. Di Filipina
Brotowali dianggap sebagai obat serba bisa antara lain dipakai untuk
mengobati penyakit gila. Di Bali batangnya dipakai sebagai obat sakit
perut, demam dan sakit kuning, bahkan sebagai obat gosok untuk
mengobati sakit punggung dan pinggang. Di Jawa air rebusannya digunakan
dalam hal demam jujuh, dan sebagai obat luar untuk luka dan
gatal-gatal. Pada awal abad ke-20, kulit yang ditumbuk dipakai untuk
mengobati sakit gula. Tumbuhan ini juga digunakan sebagai pengatur haid
dan obat kencing. Batangnya (sesudah direbus airnya) biasanya digunakan
untuk obat sakit perut, demam, sakit pinggang, obat mencret dan obat
cacing. Bila dicampur dengan minyak dan belerang maka bisa digunakan
sebagai obat luar untuk kudis. Air rebusannya untuk obat borok sifilis.
(Pada umumnya daunnya dipakai sebagai obat borok). Batangnya dijual di
pasar-pasar dan dikenal dengan nama "batang Brotowali". Zat pahit dari
Brotowali adalah pikroretin; akarnya rnengandung berberin dan kolombin.
Pada beberapa penyelidikan dengan kelinci, obat ini ternyata sedikit
khasiatnya melawan demam. Obat yang baru, jika ditelan akan menambah
rekresi lendir dan ternyata air rebusan memberi ketenangan pada tikus,
dengan demikian pemakaiannya bermanfaat dalam menangani penyakit
kesadaran (psychosis) dan mungkin pula sakit gila.
|